Diposkan pada poem, poetry, puisi, quotes

Penantian

Siapa yang akan menantiku di sebrang sana?

Siapa yang akan menjemputku dengan genggaman hangatnya?

Ya Rabb, begitu gusar rasanya mulai menyelimuti qalbiku. Aku belum bisa melihat seorang pun yang berdiri di sebrang sana untuk menantiku. Bukan kah harapan itu terus bertumbuh diiringi degan penantian atas diri ini. Tapi, tidak ada siapa pun yang benar-benar menantinya.

Apakah aku tidak pantas untuk dicintai? melihat tak seorang pun yang berdiri di sebrang sana. Lalu bagaimana dengan hati yang aku jaga dengan sepenuh hidupku. Hati yang sudah aku persiapkan untuk seseorang di sebrang sana. Akan kah semua yang aku lakukan sia-sia, Ya Rabb?

Aku hanya takut, bagaimana jika hati yang telah aku rawat lalu ku semai ini tidak ada yang memetiknya dan bagaimana jika selamanya tidak ada seorang pun yang menungguku di sebrang sana untuk menikmati hasil dari hatiku yang segar ini.

Diposkan pada poetry, puisi, quotes

Mengapa Kapal Itu Kembali?

Dear Tuan Bulan…

Aku kembali berlabuh bukan tanpa alasan. Aku kembali masih dengan alasan yang sama dengan alasan saat aku pertama kali berlabuh di sini. Ketenangan dan kesucian dermagamu mengingatkan ku pada sang pencipta. Tidak kah kau menyadari kehadiranku, Tuan? aku tak akan memaksa untuk menyambut labuhanku. Sebab aku begitu sadar, kapal ini penuh karat dan bocor di mana-mana.

Jika suatu saat nanti aku kembali berlayar lagi, akan aku pastikan membawa ribuan mutiara yang menghiasi kapalku dan kembali berlabuh dengan alasan yang masih sama pula. Tapi, satu hal yang harus kau tahu, Tuan. Kapal ini benar-benar tak bernahkoda. Ia kembali bersama deburan ombak dan hiliran angin, melewati teriknya mentari dan seramnya amukan malam. Kapal ini kembali ke dermagamu, Tuan.

اليوم أصلي من أجلك

Diposkan pada crushh, fiction, heart, letter, love, lover, poetry, puisi, quotes, surat, syair

Small Letter

Saat aku menggoreskan tinta di atas kertas, artinya aku sudah siap. menerima semua resiko yang akan datang. Bukan kah aku menulisnya untuk meluapkan perasaan yang menggebu-gebu itu, berharap engkau juga merasakan apa yang aku rasakan melalui pesan singkat itu.

Tapi tidakkah aku cukup bodoh, terbelesit mengharap pada sosokmu yang aku tau bahwa kau adalah manusia. Saat lukisan terakhir selesai, aku juga menyelipkan perasaan iklashku dan merelakan kemana engkau akan membawa surat itu, di pembuangan akhir atau pada kekasihmu.

Aku tidak akan bilang jika aku tidak berharap balasanmu, aku juga tidak akan bohong bila aku masih menunggu jawabanmu. Tak mengapa jika itu hanya satu kata, aku akan merasa sangat senang menerima tulisan tanganmu. Tapi aku bodoh, aku sudah menulisnya untuk tidak bermaksud apa-apa.

Dalam jawaban sebelumnya, aku ingin menyampaikan permintaan untukmu secara lebih jelas dan mendalam. Aku ingin menggali lapisan dalam dari dirimu melalui susunan kata-kata yang dihubungkan. Memberikan gelombang emosi dan pengalamanmu melalui karya tulis yang indah.

Terkadang, ada keindahan tersendiri ketika seseorang dapat mengungkapkan perasaan dan pikiran mereka lewat tulisan.

Jadi, jika aku punya kesempatan untuk melihat dirimu melalui sudut pandangmu, melalui lensa kata-kata yang dipilih dengan hati-hati, itu akan menjadi sebuah anugerah bagi dunia ini. Aku ingin merasakan apa yang kau rasakan saat menulis, aku ingin mengerti dan menghargai perjalananmu dalam hidup. Meskipun tak bisa menjadi milikku, ceritamu akan ada dalam setiap kata yang kita ungkapkan.

Aku akan terus membuatmu hidup dalam tulisanku. Walau perasaan itu telah padam dalam hatiku, dia akan selalu hidup ketika kata tentangmu dibaca kembali.

– Tintanyaerza.

Translate :

When I put ink to paper, it means I am ready to accept all the risks that come with it. Isn’t it that I write to pour out those fervent emotions, hoping that you can feel what I feel through that brief message?

But am I not foolish enough to hope for your presence, knowing well that you are only human? When the final stroke is complete, I also embed my sincere feelings and relinquish control of where you will take that letter, whether to the depths of disposal or to your beloved.

I won’t say I don’t hope for your reply, and I won’t lie that I am still waiting for your answer. It doesn’t matter if it’s just one word, receiving your handwritten note would make me incredibly happy. But I am foolish, I wrote it without any intentions.

In my previous response, I wanted to express my request to you more clearly and deeply. I wanted to delve into your inner layers through the arrangement of interconnected words. To convey waves of your emotions and experiences through beautiful written works.

Sometimes, there is beauty in someone being able to express their feelings and thoughts through writing.

So, if I had the chance to see you through your perspective, through the carefully chosen lens of words, it would be a gift to this world. I want to feel what you feel when you write, I want to understand and appreciate your journey in life. Even if it can’t be mine, your story will exist within every word we express.

I will continue to make you live within my writing. Even if those feelings have extinguished within my heart, they will always come alive when words about you are read once again.

  • Tintanyaerza