Diposkan pada poem, poetry, puisi, quotes

Penantian

Siapa yang akan menantiku di sebrang sana?

Siapa yang akan menjemputku dengan genggaman hangatnya?

Ya Rabb, begitu gusar rasanya mulai menyelimuti qalbiku. Aku belum bisa melihat seorang pun yang berdiri di sebrang sana untuk menantiku. Bukan kah harapan itu terus bertumbuh diiringi degan penantian atas diri ini. Tapi, tidak ada siapa pun yang benar-benar menantinya.

Apakah aku tidak pantas untuk dicintai? melihat tak seorang pun yang berdiri di sebrang sana. Lalu bagaimana dengan hati yang aku jaga dengan sepenuh hidupku. Hati yang sudah aku persiapkan untuk seseorang di sebrang sana. Akan kah semua yang aku lakukan sia-sia, Ya Rabb?

Aku hanya takut, bagaimana jika hati yang telah aku rawat lalu ku semai ini tidak ada yang memetiknya dan bagaimana jika selamanya tidak ada seorang pun yang menungguku di sebrang sana untuk menikmati hasil dari hatiku yang segar ini.

Diposkan pada poem, poetry

Am I High?

Aku pernah aku merasa secandu ini
Menikmati tiap detik senyumanmu
Terus merekah seperti bunga
Dan menghangat seperti musim semi

Suara yang mengalun seperti biola.
Mengalir dalam kedua telingaku
Menghapus kewarasan yang tersisa
Seolah hanya kau yang pantas ku candui

Jika kau narkoba, mungkin aku seorang kriminal buronan
Bagaimana tidak tuan, dirimu terus saja membuatku tak sadarkan diri
Lalu terbang dengan dirimu yang candu
Apakah ada rehabilitas untuk kriminal sepertiku?

Yang terbelenggu dalam satu sosok.

-tintanyaerza.

Diposkan pada poem, poetry

Dia Si Bunga Matahari

Dia seperti bunga matahari
Berseri-seri menyerbak mentari
Senyumannya yang memanjakan hati
Sempat terlupa akan jarak diri ini

Tak terlihat sosoknya di depan mata
Tapi rasa rindu ini terus menggila
Terus mendidih ingin memeluknya
Berusaha tetap waras menyadarinya

Aku hanyalah satu dari ribuan
Kesempatan yang tak bisa dibandingkan
Tapi hati ini terus ingin dimanjakan
Dengan kehadiranmu yang diinginkan

Bagaimana tidak …

Matanya seperti ukiran dari yunani.
Rahangnya yang tegas menopang bibirnya yang manis. Senyumannya seperti madu yang memabukkan. Sama seperti tulisan ini hancur saat membayangkan dirinya. Tak peduli aturan kepenulisan untuk menggambarkan dirinya yang sulit dilupakan. Entah sihir apa yang ia kenakan, itu membuatnya terlihat seperti tak nyata.

-tintanyaerza.

Diposkan pada poem

Ada Apa Dengan Malam?

Satu triwulan aku lewati, menjadi pujaan hati pada malam hari. Kilau mentari ku hirau, demi menemui gelapnya sang malam.

Ada apa dengan sang malam?

Diantara gelap dan gulita, tuan bulan bersinar paling indah. Jutaan bintang yang menawan, tak membuat beralih dari kilauan Tuan Bulan. Bukan kah kilauan itu dari Mentari, ia mendapatkannya dari mentari, harusnya kagumlah pada sang Mentari.

Tidak, kau tidak tahu.

Tuan bulan itu lah yang menyinari gelapnya malamku. Cahayanya lah yang menghangati dinginnya malamku. Keindahannya lah yang menghibur duka di setiap malamku. Mungkin ia tak sehebat Mentari, namun dia lah yang menemaniku sepanjang malam yang sunyi.

-tintanyaerza.